Rabu, 07 Juni 2017

Published Juni 07, 2017 by with 0 comment

Vektor dan Corel Draw


Vektor dan Corel Draw
Eka PW

Vektor? Apa itu. Pertama kali yang ada dibenak saya ketika mendengar kata vector yang disampaikan oleh Dosen Aplikom saya adalah arah. Maklum karena saya berasal dari SMA IPA, dalam pembelajaran Fisika terdapat materi vector yang didefinisikan sebagai arah. Kebingungan sempat ada di benak saya, ketika dosen saya menambahkan bahwa disemester dua dalam perkuliahan ini, mahasiswa harus mengumpulkan design vektor. Kebingungan saya semakin bertambah ketika dosen saya menambahkan embel-embel design sebelum kata vektor. Saat itu saya berpikir apakah kita akan mendesign arah? Sepertinya akan lucu apabila pembelajaran kali ini kita akan mendesign arah. Secara perkuliahan saya di Aplikom ini materinya tentang design grafis.

Ternyata vektor yang dimaksud adalah seni grafis dimana kita akan membuat ilustrasi suatu hal bisa manusia, pemandangan alam, atau bentuk-bentuk lainnya yang dalam proses pembuatannya berkaitan erat dengan garis dan perpaduan warna. Dengan hasil akhirnya menyeruapai gambar aslinya namun berwujud layaknya kartun. Ada banyak software yang dapat digunakan untuk membuat vektor seperti photoshop, adobe illustrator bahkan dapat menggunakan Corel Draw. Bagi saya yang masih awam dengan dunia grafis saat itu, tidak menyangka bahwa Corel Draw dapat digunakan untuk membuat vektor disamping pembuatan poster, logo atau design cover majalah atau buku. Sebelum mengenal vektor saya juga telah membuat beberapa produk dengan menggunakan Corel Draw Graphic ×7. Seperti membuat poster atau logo majalah 

Beruntung saat itu, dosen saya langsung memberikan tutorial bagaimana membuat vektor. Tutorial pertama adalah tentang pembuatan face vektor. Setelah saya melihat cuplikan tentang face vektor beserta langkah pembuatannya. Selama ini, saya sudah banyak menjumpai gambar-gambar mirip kartun seperti itu. Akan tetapi  saya tidak berpikir sampai ke bagaimana cara pembuatannya dan software apa yang digunakan. Dan beruntungnya saya dalam perkuliah Aplikasi Komputer ini, saya diperkenalkan lebih jauh tentang vektor.
Dalam pembelajaran kuliah Aplikom semester ini, dosen saya memperkenalkan cara pembuatan vektor dengan menggunakan Corel Draw Graphic ×7. Meskipun sudah lama saya mengenal Corel Draw, akan tetapi saya hanya sebatas menggunakan Corel Draw Graphic ×4 untuk design poster saya saat saya duduk di SMA. Dan Corel Draw Graphic ×7 masih merupakan suatu hal yang baru bagi saya, meskipun secara keseluruhan memiliki fungsi dan tools yang tidak jauh berbeda dengan Corel Draw Graphic ×4.
Design vektor pertama saya ialah mendesign potret pemandangan. Meskipun saat itu, sebagai pemula dosen saya memberikan sebuah contoh lalu para mahasiswa membuat design yang mirip seperti contoh, namun sudah sangat memberikan gambaran bagaimana menggunakan tools tools vektor dalam corel draw. 

Sebagai tugas terakhir design vektor, saya membuat sebuah face vektor diri saya sendiri. Dengan bantuan sebuah foto diri saya yang kemudian saya jiplak setiap sudut gambar. Meskipun pada akhirnya hasilnya belum semirip dengan foto, namun setidaknya saya telah membuat face vektor diri saya sendiri. 

Dalam membuat face vektor tersebut, saya menggunakan tool B-sline tool. Hal ini dikarenakan dalam membentuk bangn-bangun dtar atau mengikuti setiap garis pada wajah dan tubuh di dalam foto, akan lebih fleksible dan dapat dengan mudah membuat garis lengkung. Kemudian untuk membuat efek nyata dalam vektor tersebut, saya mencoba bermain warna pada baju dan hijab. Hal ini untuk memperjelas lipatan-lipatan pada baju dan hijab agar terlihat lebih nyata.

Setelah terbuka labsheetnya, kemudian kita dapat memulai dengan labsheet yang masih kosong dengan menambahkan foto yang akan dibuat vector face hingga menyerupai kartun yaitu dengan cara klik file pada toolbar. Kemudian pilih impor dan pilih foto mana yang akan di buat vector face kemudian drag ke labsheet seperti pada gambar.



 



 
Kemudian perbesar dan mulailah dengan membuat vector dengan B-Spline agar lebih fleksible dalam membuat vector dan mengikuti bentuk wajah. Pertama membuat bagian pada wajah terlebih dahulu.


Selepas itu membuat garis dengan B-Spline mengikuti bentuk oval muka dan beri warna dengan warna kulit kemudian klik objek dan tekan ctrl+PgDN agar objek berada dibelakang foto supaya bagian mata hidung mulut juga dapat dikerjakan dengan vector pula.


Bentuk vector pada mata mulut dan hidung dan seluruh badan dengan B-Spline lagi agar tercipta garis yang lengkung. Kemudian warnailah dengan warna yang cocok untuk mata hidung dan mulut kemudian hilangkan garis pada objek. Berikut dengan elemen lainnya. Perpaduan warna yang tepat akan menjadikan hasil gambar tampak nyata.
          
 Setelah membuat face vektor saya yang pertama tersebut, karena masih merasa kurang puas, saya mencoba membuat kembali dengan foto yang berbeda. Kali ini masih dengan foto wajah saya sendiri seperti gambar berikut :

Kali ini, hasilnya lebih halus ketimbang vektor yang sebelumnya. Dalam pengerjaannya, saya lebih memperhaikan setiap detil elemennya. Tidak seperti vektor saya yang pertama dengan kesan terburu-buru dalam membuatnya sehingga hasilnya masih kasar. Dalam vektor saya yang kedua ini, menampilkan hasil yang lebih halus dan lebih rinci setiap detailnya. Sehingga lebih tampak seperti nyata. Walau begitu, permainan warna dalam vektor saya ini terlihat masih belum sempurna, banyak elemen-elemen yang warnanya terkesan berlebihan. Seperti terlihat pada lipatan hijab yang masih menampilkan warna yang kurang sesuai. Namun secara keseluruhan vektor kedua saya ini lebih bagus ketimbang face vektor pertama saya. Meskipun pada dasarnya cara pengerjaannya sama. Dengan software dan tools yang sama. Hanya memang lebih diperhatikan setiap detail dan kesesuaian warna dengan foto aslinya.

Itulah pengalaman saya saat pertama kali mengenal Corel Draw untuk membuat vektor yang juga merupakan karya grafis yang masih asing bagi saya. Saya berharap seni grafis inidapat terus dikembangkan sebagai suatu bentuk kreatifitas. Dan menjadikan seni design grafis ini dapat dibuat bukan hanya dari kalangan seniman grafis namun agar setidaknya banyak orang yang mengenal bagaimana cara pembuatannya dan software apa ang digunakan. 

Read More
    email this       edit

Senin, 08 Mei 2017

Published Mei 08, 2017 by with 0 comment

FACE VEKTOR

Ini face vektorku yang kedua. Yang pertama jelek banget ini nih  di bawah:

Aku pernah sebel sama orang yang bikin face vektor dan hasilnya jelek banget. Ternyata sesusah ini bikinnya to. Ngga jadi lagi deh bilang jelek.

well face vektorku yang pertama ini memang sengaja aku bikin karena suasana hatiku sama kayak yang di ilustrasikan. Sedih. Aku kan tipe orang yang ngga vocal. Aku ngga bisa ngungkapin kesedihan secara langsung dengan bicara atau curhat dengan lawan orang. Bagiku risih banget ngumbar curhat langsung face to face. Nah kadang parahnya aku malah justru ngungkapin di media massa, dan alahasil banyak orang yang tahu yah walaupun cuma dari instastories. Yaudah ada foto aku pas galau langsung aja aku bikin face vektor. 

Mau tau aku sedang mikirin apa? Oke aku kasih tahu. Tapi postingan selanjutnya ya...

Postingan ini cuma untuk kasih tahu kalian aja aku bikin face vektor pake apa.
Jadi aku pake corel draw graphic 7
pingin tahu cara buatnya?
oBerhubung males nerangin, aku suruh kalian lihat tutorialnya di yputube aja. Wkwkwk
Read More
    email this       edit

Sabtu, 08 April 2017

Published April 08, 2017 by with 0 comment

Warisan Dari Sang Guru Jurnalisme



 Warisan Dari Sang Guru Jurnalisme
Eka Putriyana Widyastuti




Judul                            : Kompas Way Jacob’s Legacy
Penulis                         : St. Sularto dan F. Harianto Santoso
Cetakan                       : Pertama, 2016
Halaman                      : 256
Penerbit                       : Kompas Gramedia
Kota terbit                   : Jakarta


            85 tahun sudah umur Jacob Oetama. Buku ini ditulis oleh St Sularto dan F. Harianto Santosa sebagai hadiah untuk umur Jacob Oetomo yang ke 85.  Sang pendiri dan perintis lembaga media bisnis yang ia beri nama Kompas. Bersama rekannya, Ojong, yang telah meninggal pada tahun 1980, mereka mendirikan Kompas sebagai media pers yang tidak hanya menyimpan kepercayaan masyarakat, namun juga sebagai lembaga media yang merangkap pula sebagai lembaga pendidikan bagi masyarakat. 

            Buku ini, membahas rekam jejak, pemikiran jurnalisme, dan karya salah satu pendiri kompas, Jacob Oetomo. Dalam buku ini menyampaikan hal yang diberi nama Kompas Way atau Cara Kompas sebagai salah satu warisan berharga dari sang perintis dalam rangka mencerahkan dan berkembang untuk menjaga keindependenan sebagai lembaga media yang idealis dan lembaga bisnis yang terhormat berdasarkan rekam jejak dan pemikiran jurnalisme dari sang perintis Kompas. 

Jurnalisme Pembangunan, Jurnalisme Fakta, dan Jurnalisme Makna

           Menurut Jacob Oetomo, setiap lembaga media atau pers memiliki keunikan jiwa dasar masing-masing untuk mengembangkan diri. Dengan keunikan jiwa dasar masing-masing. Mereka hanya berbeda dalam cara menyampaikan dan mengekspresikan pandangan masing-masing. Setiap media memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap suatu kejadian dan fakta sehingga permasalahan yang diangkat pu berbeda, termasuk cara menarasikan berikut olusi yang ditawarkan. Intinya pers menyamaikan critics with understanding. (Halaman 40-41) 

           Kompas pun demikian, kompas melahirkan temuan-temuan cerdas untuk menghadapi tantangan media pers. Menurut Jacob Oetomo, lahirnya temuan berupa Jurnalisme pembangunan, jurnalisme fakta, dan jurnalisme makna, merupakan cara untuk terus mencerahkan dan mengambangkan kompas ditengah berbagai tantangan. 

           Cyber media semakin meluas dimanapun, kompas way hadir dengan jurnalisme fakta. Ketika tantangan atas cyber dan hadirnya media social yang lebih mengandalkan kecepatanan mengakses berita, media cetak kompas memiliki senjata berupa jurnalisme makna dan tetap dalam koridor pancasila. Tak lupa pula dengan jargonnya sebagai lembaga media sekaligus lembaga pendidik masyarakat.  Dan tentu saja tanpa meninggalkan sisi industry media yaitu bisnis yang profesional dan bersih. 

Guru Jurnalisme dan Civic Education

           Kanisius Ojong dan Jacob Oetama, pendiri dan perintis kompas ini, memiliki latar belakang seorang guru. Mereka menjadi guru sebelum dan ketika mereka telah menjadi wartawan.  Begitupun kompas, yang juga menjadi lembaga pendidik di tangan Jacob Oetomo selalu menampilkan sosok dirinya yang juga sebagai guru jurnalisme dan pendidikan kwarganegaraan

            Jacob Oetomo sebagai guru jurnalisme dan pendidikan kwarganegaraan, bertindak sebagai pendamping atau mentor bagi penulis-penulis buku. Ia memulai karirnya sebagai guru sejarah kemudian menjadi penulis untuk biografi-biografi para tokoh. Dalam buku dikatakan bahwa jika bangsa Yunani bangga dengan Herodutos, maka Indonesia bangga dengan figur Sartono Kartodirdjo, Sajogyo, Sediono, Soedjatmiko, Onghokham, termasuk juga wartawan-wartawan seperti Mochtar Lubis, PK Ojong, Rosihan Anwar, dan Jacob Oetomo. 

           Salah stau murid Jacob yaitu, Ignas Kladen menempatkan Jacob Oetomo sebagai pendidik sebagai bentuk apresiasinya terhadap Jacob yang memberikan pemahaman-pemahaman tentang apa yang diajarkan Jacob lewat tulisan-tulisan tajuk, analisis, dan wilayah garapan serta cara mengolahnya. Menurut Jacob, wartawan itu layaknya penelitian social dimana wartawan btidak hanya berkaitan atau berhubungan dengan kantornya atau perusahaan, namun wartawan berhubungan dan berkaitan langsung dengan public atau khalayak atau pembaca. 

Mengenal Tanah Air (MengIndonesia)

           Menurut Jacob Tanah Air kita Indonesia ini memiliki kekayaan alam yang maha besar. Akan tetapi banyak orang yang tidak mengenal secara detail apa saja kekayaan Indonesia. Menurut Jacob, mengenal negeri sendiri tidakhanya mengenal potensi wisata, kekayaan alam, aut dan hutan serta modal ekonomisnya. Namun juga mengenal Indonesia dari sisi budaya dan keragaman lainnya. Menjadi Indonesia yang baik, bukan hanya dengan menjaga keutuhan diatara keragaman budaya tersebut. Namun seberapa besar orang Indonesia dapat dengan aktif untuk terus produktif dengan memanfaatkan limpahan alam tersebut.

           Jacob dalam menerjemahkan gagasan besar kebangsaan Bhinneka Tunggal Ika secara nyata berpendapat bahwa media memiliki peran yang amat penting dalam rangka menganggakat ke permukaan dan mengumumkannya lewat media pers, elektronik, maupau digital tentang keanekaragaman Indonesia. Hal ini dikarenakan agar masyarakat mengetahui apa saja kelebihan dan kekurangan dari negeri ini. Dan dapat dijadikan acuan mereka dalam mengembangkan diri sebagai bangsa yang modern, adil, dan sejahtera, memanfaatkan potensi sebagai pariwisata domestic, serta dapat memanfaatkan warisan alam yang dianugrahkan oleh Tuhan dengan baik. (Halaman 101-102)

           Indonesia adalah Negara yang serumpun dan sama-sama berkembang awal mulanya dnegan Negara lain layaknya Malaysia. Namun yang jadi pertanyaan mengapa Malaysia lebih maju dan meninggalkan pesat Indonesia. Padahal begitu banyak sumber daya dan kekayaan di Indonesia. Jacob kemudian bertanya, apakah hal ini karena adanya kesalahan dalam manajemen di Negara ini? Namun Jacob berujar bahwa semuanya kan terus diperbaiki seiring adanya reformasi saat ini. Lewat reformasi ini bangsa kita dapat bangkit dari keterpurukan dn terus mengejar ketertinggalannya. 

           Jacob juga berujar pada wartawan-wartawannya, menegaskan kembali, bahwa media perlu mengangkat kembali apa yang seharusnya diperlihatakan dan dikenalkan kepada public tentang Indonesia. Karena bukan selakyaknya pemiliki rumah tak mengenal tempat tinggalnya sendiri. Bagaimana mungkin pula ia akan mengenal pagar pembatasnya apabila tak mengenal tempat tinggalnya sekalipun. 

           Obsesi Jacob Oetomo untuk mengenal lebih jauh tentang Indonesia, bukan hanya mengajak public untuk mengenal kekayaan Indonesia secara mendalam, namun juga sebagai upaya edukatif untuk mengajak public untuk turut ikut mengambangkan Indonesia kea rah masa depan yang baik. 

Terus Belajar Tiada Henti

             Selain buku-buku, Negara-negara, nama-nama besar, peristiwa sehari-hari, Jacob terus menggalli inspirasinya yang kemudian ia sampaikan kepada masyarakat sebagai bahan ajar sekaligus mendidik masyarakat. Dan tak lupa moto hidupnya yaitu terus menerus belajar tiada henti. 

           Jacob memiliki 3 pengalaman belajar yang besar selama hidupnya. Pertama ketika ia berada di Muntilah dan bertemu dengan sosok yang ia kagumi, yaitu Romo Sandjaja. Kedua, ketika ketika ia melakukan pendidikan seminari yang berperan dalam proses membentuk kepriadian Jacob dan membentuk kepercayaan Jacob terhadap nilai-nilai. Ketiga, kebiasaan reflektif sebagai bagian utuh keseharian Jacob yang disebut Intuisi Intelektual. 

           Ada banyak hal tentang Jacob Oetomo di dalam buku ini yang begitu banyak dan menginspirasi, selain tentang latar belakangnya, riwayat hidupnya, karyanya, namun juga pandangan jurnalisme yang mengkritisi setiap peristiwa dan sikapnya yang layak dijuluki sebagai guru jurnalisme dan civic education. Walaupun buku ini terkesan menyampaikan pandangan idealisme seseorang yang terkesan menggurui, namun perlu diketahui bahwa setiap hal dibagikan dalam buku ini bermanfaat dan sangat patut diteladani.
          
          
          
           
Read More
    email this       edit

Senin, 20 Maret 2017

Published Maret 20, 2017 by with 0 comment

Aku Datang dari Desa

Aku Datang dari Desa

Oleh Eka Putriyana Widyastuti



"Aku datang dari desa kak"

"Aku merantau disini"

"Mencari ilmu dan kemajuan"

Sahaja Permata. 19 Tahun. Sesuai namaku, aku ingin menjadi permata yang berkilau namun tetap bersahaja. Aku adalah seorang perantau. Tidak untuk mencari nafkah, namun mencari setitik ilmu. Sudah lebih dari setengah tahun, hari-hariku kuisi dengan menuntut ilmu di kota pelajar. Aku datang dari pelosok. Tepatnya bagian paling Timur Jawa tengah. Hidupku jauh dari hingar bingar dan riuh kota. Bersahaja. Satu kata yang menggambarkan kehidupanku disana. Jauh dari konflik karena modernitas. Tapi penuh dengan gotong royong dan saling memahami.

Kini, aku meninggalkan desaku. Sebentar saja. Hanya sekejab. Karena aku akan kembali dengan harapan besar untuk desaku kelak. Membawa kemajuan untuknya nanti. Itu janjiku pada tempat kelahiranku dimana aku dibesarkan hingga sekarang.

Aku memilih Yogyakarta sebagai tempat aku mencari ilmu. Berawal dari opini masyarakat yang mengatakan Yogyakarta adalah kota pelajar, aku berangkat dengan penuh keyakinan dari desaku. Sendiri. Dengan tekad yang bulat. Orang tuaku hanya sebatas mengawasiku dari jauh. Dengan bermodal telepon dan sms. Itupun jika disana ada sinyal. Terkadang sinyal tak ada setiap saat. Begitu pelosok hingga sulit membuat sinyal handphone stabil. 

Aku memilih jurusan ilmu komunikasi. Berkat seorang temanku, Rani yang dari SMA, aku dikenalkan dengan jurusan yang sangat dekat dengan kemajuan itu. Tertarik, kuputuskan untuk memilih Ilmu komunikasi UNY. Itu pun berkat rekomendasi temanku itu. 

Aku cukup kesulitan saat mengikuti tes masuk perguruan tinggi demi masuk ke jurusan itu. Latar belakang sekolahku yang merupakan Sekolah Menengah Jurusan, membuatku harus belajar dari awal ilmu-ilmu sosial demi dapat menyelesaikan soal-soal berkategori SOSHUM itu. Masih ingat saat itu, aku harus berdebat dengan orang tuaku. Keinginanku untuk mengambil les tambahan di tempat bimbel harus mendapat pertentangan oleh orang tuaku. Biaya yang mahal dan tempat yang jauh tentu membuat mereka harus berpikir ulang untuk mengijinkanku. Kembali kutunjukan rasa semangatku yang menggebu, hingga membuat mereka pun luluh. 

Dan sinilah aku sekarang. Perjuanganku membuahkan hasil. Berkat doa orang tua dan semangatku. Bermodal tekad yang kuat, aku harus siap menghadapi apapun di tempat yang begitu bertolak belakang kondisinya dengan tempat tinggalku. 


"Boleh kakak minta id line mu?"

"Maaf kak, saya belum punya android."

Hari-hari memalukan bagiku. Saat aku sedang gencar-gencarnya beradaptasi. Kenapa aku tak pernah terpikir untuk membeli hp android dulu sebelum memulai kehidupanku disini. Padahal sebelumnya aku sudah diwanti-wanti Rani untuk membeli android. Karena hidup dikota berasa mati bila tak ada android. Semuanya menggunakan internet untuk berkomunikasi. Apalagi aku akan masuk di jurusan yang sangat berkaitan dengan media. Termasuk media sosial. Tentu aku harus punya modal. 

"Oke. Kakak catat saja nomor teleponmu"

" Baik kak." 

Masih ada nomor telepon. Kakak itu bisa menghubungiku dengan nomor telepon. Sambil berharap proses registrasi masuk perguruan tinggi ini cepat selesai aku segera memberikan nomor hpku. Sebelum aku ditanya hal-hal yang dapat membuatku malu. 

Hari ini, aku sedang melakukan tes wawancara Pemilihan minat dan bakat dari UKM jurnalisme di kampusku. Kujawab semua pertanyaan kakak tingkat yang mewawancaraiku dengan sejujur-jujurnya. Kubilang padanya bahwa aku benar benar ingin belajar. Bukan belajar menjadi pandai layaknya cendikiawan. Aku ingin belajar terbuka dan peka terhadap peristiwa. 

“Aku datang dari desa kak”. Aku mengerti posisiku saat ini. Cukup menantang memang. Aku yang ibaratkan masih kolot datang dari pelosok, berani mengambil resiko tekanan dengan mendaftarkan diri sebagai mahasiswa komunikasi di kampusku sekarang ini. Aku tak mengerti apa-apa tentang komunikasi. Ilmu yang kata orang sangat kekinian. Sedang aku jauh dari kata kekinian. Jaringan internet yang lemah di rumahku menghambatku untuk berselancar mengikuti arus kekinian yang semuanya serba menggunakan internet. Aku hanya sekedar tahu saja. Sosial media seperti instagram, youtube, facebook, twiter, path dan sebagainya. Hanya saja aku tak dapat menikmatinya setiap saat. Apalagi lingkunganku yang masih bersahaja. Pemuda-pemudinya masih polos. Bagi kami, hal-hal kekinian masih tabu untuk diikuti. Kondisi ekonomi kami juga tak mungkin mendukung kami untuk mengikuti. Apalagi bagi kami, hal-hal kekinian masih dianggap tak mungkin diikuti mengingat kondisi sosial kami yang masih kental dengan budaya dan tata krama. Yang tentu saja membuat kami harus membatasi perilaku kami. Memegang handphone saat berbicara dengan orang tua saja dianggap tak sopan. 

Lalu mengapa aku memilih untuk mengikuti arus kekinian, dengan masuk ke jurusan yang dianggap kekinian? Jadi, apakah aku mencoba tak mematuhi aturan di tempat tinggalku? Bukan. Bagiku ini langkah untuk berubah. Bukankah tak masalah aku menjadi orang kekinian tapi masih taat aturan? Komunikasi erat hubunganya dengan media. Erat hubungannya dengan banyak orang. Lewat ini, aku sadar bahwa ada saatnya setiap orang untuk bergerak dan muncul ke permukaan. Tidak hanya bersembunyi dalam titik aman dan nyaman saja. Suatu saat nanti, aku akan jadi orang yang sukses. Dan caranya aku harus jadi pemuda yang mengikuti jaman, peka terhadap berbagai peristiwa, dan berani mengambil langkah untuk maju dan sukses. Latar belakangku dari desa tak akan menghambatku untuk berjalan maju.

Toh aku sekarang sudah menjadi anak kota. Tinggal di kota, walau statusnya hanya perantau saja. Tapi cukup untuk merasakan hingar bingar dan riuh kota. Melihat bagaimana pemuda-pemudi kekinian melakukan aktivitasnya, bermain, belajar, eksis, nongkrong, dan sebagainya. Banyak sekali aktivitas mereka ternyata. Di lingkunganku, pemuda-pemudinya hanya dapat nongkrong di warung-warung sambil membicarakan pekerjaan mereka masing-masing dan tentang si kembang desa yang manis aduhai. Hanya sebatas itu-itu saja. Beda denganku sekarang, acara nongkrongku lebih berkualitas. Aku membicarakan berbagai projek dengan teman-temanku saat ini. film, foto, tulis-menulis, vlog. Sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku juga bebas bermain di sosial media. Membuatku terbuka pada dunia. Ada banyak hal yang aku ketahui lewat sosial media. Baik sesuatu yang baik maupun buruk dan tak patut dicontoh. 

Setelah satu semester berlangsung, pelan-pelan aku mulai mengikuti arus. Aku mulai paham apa yang harus aku pelajari. Broadcasting salah satunya. Demi kelancarannya, aku mencoba ikut ukm radio. Bermaksud untuk mengolah kemampuan bicaraku. Aku tahu, ukm radio sangat menuntut untuk dapat mengikuti arus perkembangan jaman. Tesnya saja tak jauh-jauh dengan dunia entertaiment. 


"Apa yang kau tahu tentang kehidupan anak-anak di kota?" Kakak itu memberikan pertanyaan lagi. 

"Bersahaja kak"

"Bersahaja? Bagaimana bisa begitu? Tak kamu lihatlah para anak-anak di kota yang dekat dengan modernitasnya? Moral yang mulai lenyap? Bagaimana dengan tata krama yang mulai pudar?" Kakak itu memberondongku dengan pertanyaannya.

"Iya bersahaja kak. Apabila mereka menjadi anak yang sadar kemajuan sekaligus sadar nilai-nilai, moral, dan budaya. Aku datang dari desa kak. Tak banyak gambaran modernitas di sana. Setelah saya disini, saya mengenal modernitas. Banyak kemudahan untuk berkarya. Banyak inspirasi yang dapat dari mana saja. "

"Dan saya berharap. Alangkah hebatnya pemuda di negeri ini apabila mereka penuh karya. Memanfaatkan kebebasan untuk berkarya yang ada saat ini dengan masih memegang moral dan nilai-nilai serta budaya." 

"Lalu apa misimu, sebagai orang desa yang datang ke kota?"

"Saya tak ingin terbelenggu dengan moral dan nilai yang ditanamkan di desa saja tanpa berkarya. Saya ingin menjadi orang yang maju. Mengikuti segala peristiwa di sekitar saya. Terus berkarya disetiap peristiwa yang saya lalui. Dan tetap memegang nilai dan moral yang diajarkan dari saya kecil."




Cerpen ini aku buat karena aku terinspirasi dari cerita kawanku se prodi tentag dirinya dan semangatnya untuk berubah ke arah yang lebih maju. Makasih ya... Semoga bisa menjadi pelajaran kita semua.


Read More
    email this       edit

Minggu, 19 Maret 2017

Published Maret 19, 2017 by with 0 comment

Parkirlah Kendaraan pada Tempatnya


Parkirlah Kendaraan pada Tempatnya
Eka PW

“Malioboro itu terkenal. Banyak wisatawan yang datang kemari demi bisa menikmati keramaian khas Jogja disini. Tapi masih banyak diantara mereka yang bingung ingin parkir dimana. Kata mereka terlalu jauh dan malas menyebrang jika parkir di Abu bakar Ali. Sebagian dari mereka memilih parkir di kawasan parkir mall matahari atau ramayana.” Tutur salah satu juru parkir di kawasan parkir Abu Bakar Ali saat ditemui di kawasan parkir Abu Bakar Ali Rabu, 15 Maret 2017. 

Malioboro. Salah satu tujuan wisata paling diminati di Yogyakarta. Tak lengkap rasanya apabila tak menginjakkan kaki di Malioboro saat berkunjung di Yogyakarta. Tempat wisata yang sangat kental dengan hal-hal berbau budaya. Khususnya budaya Jawa yang sangat melekat dari setiap sudutnya. Mulai dari makanan, pakaian dan pernak-pernik khas Yogyakarta ada disini. Berikut dengan orang-orang yang ramah siap menyambut kedatangan wisatawan di tempat ini. Mulai dari tukang delman, becak hingga pedagang, semuanya akan menyambut ramah para wisatawan. 

.Untuk berwisata di Malioboro akan lebih nyaman apabila berjalan kaki menyusuri setiap sudut Malioboro. Untuk urusan memarkir kendaraan, kawasan Malioboro menawarkan banyak lokasi Parkir. Diantaranya adalah kawasan parkir yang baru saja dibuka, Abu Bakar Ali, kawasan parkir Pasar Beringharjo, Stasius Tugu, Ina Garuda Hotel, Kawasan Parkir Matahari mall dan Ramayana. Namun pemerintah merekomendasikan wisatawan atau para warga yang beraktivitas termasuk penjual di Malioboro untuk memarkirkan kendaraan mereka di kawasan parkir Abu Bakar Ali. Hal ini demi terciptanya suasana tertib di kawasan Malioboro dan tentunya tidak menghambat kondisi arus lalu lintas di sekitar Malioboro. Letaknya yang diaggap strategis yaitu di sebelah utara jalan Malioboro, dapat membebaskan setiap emperan Jalan Malioboro dari ruwetnya kendaraan yang terparkir. 

“Disini banyak lokasi parkir. Ada yang di Ina Garuda Hotel, Matahari Mall atau Ramayana. Namun wisatawan, bahkan para pedagang atau penjaga toko sudah pada parkir di Abu Bakar Ali. Dulunya masih diemperan dan menjadikan suasana ruwet karena kendaraan sana-sini. Sejak adanya relokasi, mereka pindah parkir disini. Yah walaupun harus jalan sangat jauh. Dan tentu masih ada yang parkir tidak disini” Sambung sang juru parkir Abu Bakar Ali. 

Perrmasalahannya sekarang adalah masih ada saja para wisatawan yang memilih memarkirkaan kendaraan mereka di emperan toko atau kawasan parkir hotel dan mall yang berdampak pada ketertiban lokasi sekitar Malioboro. Padahal sekarang telah ada kawasan Parkiran Abu Bakar Ali yang merupakan hasil relokasi lahan parkir di kawasan Malioboro dan tentunya sangat direkomendasikan pemerintah untuk para wisatawan demi tertibnya kawasan Malioboro. Lalu apa yang harus dilakukan pemerintah untuk mendorong mereka menjadi wisatawan dan civitas Malioboro yang tertib walau hanya sekedar memarkirkan kendaraan mereka di tempat parkir yang disarankan pemerintah. 

Aziza, salah satu pengunjung Malioboro, mengaku lebih senang memarkirkan kendaraan mereka di kawasan parkir salah emperan toko Malioboro. Karena jauh dan tanjakan yang menukik menjadi alasan Aziza lebih memilih untuk tidak memarkirkan kendaraannya kawasan parkir Abu Bakar Ali. 

Padahal apabila ada banyak wisatawan seperti Aziza yang memarkirkan kendaraan mereka di sembarang tempat, akan menambah volume kendaraan yang melintas dan keluar masuk area Malioboro. Akibatnya macet dan membuat wisatawan tak nyaman saat menyusuri Jalan Malioboro. Ingin menyebrang saja tentu akan sangat sulit. Padahal toko-toko di kawasan Malioboro ada disisi kanan dan kiri jalan Malioboro yang mengharuskan mereka, para wisatawan, menyebrang saat akan berkunjung toko-toko di kedua sisi Malioboro. 

Apabila menilik parkiran Abu Bakar Ali, dapat dilihat dari tempatnya yang sangat nyaman untuk memarkirkan kendaraannya. Lahan parkir yang tersedia sangatlah luas. Sangat cukup untuk sekitar 4000 kendaraan. Terdapat tiga lantai. Lantai pertama untuk kendaraan seperti mobil dan bus, lantai dua untuk kendaraan motor, serta lantai tiga dibiarkan kosong. Ditambah tukang parkir yang siap siaga membantu memarkirkan motor. Tarif parkirnya pun murah. Hanya dengan 1500 rupiah saja, pengunjung dapat memarkirkan kendaraan sepuas mereka tanpa dibatasi oleh waktu. Pemandaangan kota jogja yang dapat dilihat dari lantai tiga parkiran Abu Bakar Ali ini juga menambah nilai baik kawasan parkir ini. Pengunjung dapat berfoto ria di lantai 3. Tentu saja bebas dan tidak dipungut biaya apapun. 

Hanya saja parkiran Abu bakar Ali ini, selain tempatnya yang jauh dari kawasan Malioboro memiliki kekurangan lain. Tanjakan yang menukik membuat sebagian wisataaan Malioboro enggan untuk memarkirkan kendaraan mereka di sana. Apalagi akses yang sulit saat berjalan dari tempat parkir ke kawasan Malioboro yang mengharuskan mereka menyebrang jalan. Hal ini tentu menyulitkan wisatawan saat ingin menikmati suasana Malioboro. 

Tempat yang jauh dari spot wisata lainnya seperti kawasan titik nol, shopping, dan Taman Pintar menjadi alasan lain. Karena tak sedikit wisatawan beranggapan bahwa tak cukup hanya berkunjung dikawasan di sekitar malioboro. Mereka tentu ingin mengunjungi tempat lain seperti titik nol, Shopping, dan Taman Pintar yang dekat dengan kawasan Malioboro. Namun tentu menjadi pertimbangan mereka apabila mereka memarkirkan kendaraan mereka di Abu Bakar Ali. Akan sangat jauh mereka berjalan dari spot parkir ke spot wisata tersebut. Sedang tentu diantara mereka tidak mungkin berpindah-pindah tempat parkir yang memakan waktu dan energi pula. 

Adanya tempat parkir di kawasan Ina Garuda Hotel, Matahari Mall dan Ramayana, membuat sebagian pengunjung memilih untuk memarkirkan kendaraan mereka disana. Karena kawasan parkirnya berada ditengah-tengah sepanjang Jalan Malioboro. Padahal apabila memarkirkan kendaraan mereka disana tentu saja akan dikenakan tarif yang lebih mahal. Dengan hitungan waktu, mereka diharuskan membayar tarif parkir sesuai berapa lama mereka memarkirkan kendaraan. 

Untuk itu, demi tertibnya kawasan Malioboro dari kendaraan yang bertebaran dan demi kenyamanan serta kemudahan akses setiap pengunjung dan civitas Malioboro, pemerintah hendaknya meninjau ulang penataan kawasan Malioboro. Terutama tempat parkir yang masih menjadi masalah bagi pengunjung. Memang benar, adanya relokasi tempat parkir ini, telah meringankan beban pemerintah untuk mengatasi keruwetan kendaraan yang bertebaran di kawasan Malioboro. Akan tetapi, pemerintah harus meninjau kembali apa yang menyebabkan sejumlah wisatawan masih enggan memarkirkan kendaraan mereka disana. Bisa dengan merenovasi kembali lahan parkir Abu Bakar Ali agar tidak menyulitkan kendaraan untuk memarkirkan kendaraan mereka terutama sepeda motor. Dengan membuat jalan untuk naik keatas lantai dua agar tidak terlalu menukik apalagi memakan korban. Untuk kemudahan akses para wisatawan agar tak terlalu sulit saat menyebrang dari kawasan parkir Abu Bakar Ali ke kawasan Malioboro, pemerintah dapat membuat jembatan penyebrangan. Serta untuk kemudahan wisatawan menyusuri setiap area malioboro, pemerintah dapat menambah jumlah transportasi khusus pengunjung dan civitas Malioboro di sepanjang Malioboro.  (Eka)
Read More
    email this       edit
Published Maret 19, 2017 by with 0 comment

My Human Life and Interest Photography



Malioboro, 15 Maret 2017

Pasar Klewer Solo, Februari 2017

Read More
    email this       edit