Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Januari 2018

Published Januari 03, 2018 by with 1 comment

Jagongan Seputar Pembangunan Bandara Kulon Progo



Bambang Istiyanta dan Masyarakat
(Jagongan Seputar Pembangunan Bandara Kulon Progo)
Eka Putriyana Widyastuti

Ketika dunia politik gencar dengan strategi komunikasi politik modern, anggota DPRD ini berkomitmen memeluk masyarakat tanpa strategi komunikasi politik yang menyulitkan dirinya. Adalah Bambang Istiyanta seorang anggota DPRD Kulon Progo periode 2014-2019 yang menjawat sebagai wakil ketua fraksi bersatu. Beliau memilih mengesampingkan hal-hal politik ketika ia sudah berada di ruang lingkup masyarakat. Menjadi bagian dari masyarakat adalah prinsip utama yang selalu dijunjung oleh beliau. Selama tiga tahun menjawat sebagai anggota DPRD, Bambang Istiyanta selalu berada dalam pelukan masyarakat. Menjadi orang pertama yang dipanggil saat masyarakat ingin menyaluran aspirasinya.
Bambang Istiyanta dikenal sebagai seorang yang berjiwa sosial. Beliau dengan senang hati ditemu untuk wawancara. Saat itu saya berkeinginan meminta pendapat mengenai masalah pembangunan Bandara di Kulon Progo yang akhir-akhir ini menjadi masalah sensitif di kalangan masyarakat. Umumnya, seseorang yang ingin malakukan wawancara, akan mendatangi narasumber dan membuat janji bertemu. Namun beliau justru ingin mendatangi saya di rumah dan mengajak warga lain untuk turut bergabung dalam sebuah diskusi. Di waktu senggangnya, beliau sanggup memenuhi janji wawancara dan menanggapi dengan baik apa yang ditanyakan dan menanggapi opini dan keresahan warga saat itu. Beliau dikenal sebagai seorang yang mempunyai jiwa sosialisasi yang baik. Banyak waktu yang ia sempatkan untuk sekedar melakukan jagongan dengan masyarakat.
            Selama menjawat sebagai anggota DPRD, memang banyak hal telah dilakukan Pak Bambang Istiyanta untuk turut mengembangkan potensi di Kulon Progo. Mulai dari memajukan objek wisata seperti kalibiru termasuk hal promosi, dan pembangunan dari awal objek wisata, pengembangan alun-alun wates yang tidak hanya menjadi tempat olah raga namun menjadi tempat kawasan “dolan” dengan turut serta mengembangkan pedagang kaki lima dan kawasan taman, serta turut serta dalam proses perencanaan pembangunan bandara di Kulon Progo.
            Keistimewaan dari pak Bambang Istiyanta adalah ini adalah mampu menjadi bagian masyarakat yang siap menyalurkan aspirasi masyarakat. Dari awal kampanyenya beliau memang memilih segmentasi sasasaran masyarakat Desa Karangsari. Bukan karena beliau semata-mata juga berasal dari Desa Karangsari, namun beliau menjadi satu-satunya wakil dari Desa Karangsari yang menjadi anggota DPRD Kulon Progo. Beliau menjadi satu-satunya orang yang menyalurkan aspirasi masyarakat Desa Karangsari ke meja pemerintahan. Beliau turut andil dalam pengembangan baik infrastruktur dan perekonomian di Desa Karangsari meskipun beliau juga turut andil di berbagai daerah di Kulon Progo lainnya. Tak ada strategi khusus yang beliau terapkan semasa kampanyenya. Dengan pendekatan yang intensif dan menjalin keakraban dengan masyarakat menjadi modal beliau untuk mengambil hati masyarakat. Keaktifannya dalam membantu masyarakat dalam menyalurkan aspirasinya dan mendengar kebutuhan masyarakat menjadi alasan masyarakat mempercayakan kedudukan sebagai anggota DPRD kepada beliau. 

Pro Kontra Perencanaan Pembangunan Bandara

            Selama dua jam melakukan jagongan dengan Bambang Istiyanta, banyak pendapat yang ia utarakan seputar pembangunan Bandara baru di Kulon Progo yang saat itu juga menjadi topik wawancara saya. Sempat saya menanyakan tentang berbagai media yang mempublikasikan tentang keterpurukan warga korban penggusuran bandara baru Kulon Progo. Media tersebut membuat banyak publik termasuk mahasiswa terpancing dan mempercayai begitu saja yang dikatakan media. Bahkan tak sedikit mahasiswa yang membangun solidaritas dan tak sedikit pula yang melakukan aksi untuk menentang pembangunan bandara baru di Kulon Progo. Sehingga muncul berbagai pertanyaan apakah benar masyarakat Kulon Progo dirugikan secara besar-besarakan akibat pembangunan Bandara, apakah tindakan pemerintah dalam mensosialisasikan progam tersebut salah? dan apakah pemerintah salah dalam melakukan relokasi sehingga mengharuskan bentrok yang panjang dan melukai sebagian warga Kulon Progo? Adakah uji kelayakan sebelum dilakukan pembangunan?
            Beliau menjawab dengan tenang dengan kata pertama yang muncul adalah 70% warga dari seluruh warga yang relokasi menyetujui dan 30% sisanya menolak karena terprovokasi. Sedangkan warga Kulon Progo diluar wilayah relokasi bandara tidak masalah dengan pembangunan bandara dan menyambut dengan baik hadirnya bandara baru di Kulon Progo. Mengingat akan terjadi perubahan pesat perekonomian yang akan terjadi saat bandara telah di bangun. Khususnya dibidang transportasi, usaha kuliner, pariwisata dan sebagainya. Yang menjadi PR untuk pemerintah kedepannya adalah bagaimana cara membuat warga bisa mandiri dan kreatif untuk menyambut datangnya Bandara baru dengan mengasah potensi yang ada.
            30% masyarakat yang masih belum menyetujui adalanya relokasi bandara adalah masyarakat yang terprovokasi oleh pihak-pihak luar. Bambang Istiyanta berpendapat dengan adanya pembangunan besar yang akan merubah kondisi sosial dan ekonomi di kalangan masyarakat Kulon Progo pastinya akan menimbulkan kecemburuan sosial yang tinggal bagi daerah-daerah lain di Yogyakarta. Ketakutan warga lain diluar Kulon Progo akan menurunnya penghasilan perekonomian menjadi alasannya. Sebagai contoh dengan adanya pembangunan bandara pasti akan ada banyak warga Kulon Progo yang beralih profesi ke bidang transportasi seperti menyediakan jasa tumpangan seperti taxi dan ojek. Jika memang besok diperkirakan lahan bisnis jasa ini akan dikuasi oleh sebagian warga Kulon progo, tentu akan menimbulkan kecemburuan penyelenggara jasa transportasi lainnya di luar Kulon Progo yang lebih dulu telah meraup penghasilan dari jasa transportasi.
            Bukan faktor sosialisasi yang kurang, ganti rugi yang kurang, atau uji keamanan yang menjadi alasan sebagian warga masih menolak. Ini semua hanya karena faktor provokasi dan ketidaktahuan masyarakat akan pentingnya perubahan. Pemerintah telah berupaya melakukan sosialiasi dan musyawarah dengan warga setempat. Hasilnya 70% sudah bersedia untuk direlokasi dengan ganti rugi yang besar. Sedangkan persoalan tentang uji keamanan sudah dipetimbangkan melalui perencanaan pembangunan jauh-jauh hari dan telah diuji kelayakannya bahkan sebelum relokasi. Bambang Istiyanta yang turut melakukan perencaanan pembangunan ini mengatakan bahwa beliau sempat datang ke Lombok dimana disana juga direncakan sebuah pebangunan bandara baru. Beliau mengutarakan bahwa pembangunan bandara di Kulon Progo ini dinilai jauh lebih aman ketimbang pembangunan bandara di Lombok. Mengingat tidak banyak pemukiman yang berada di kawasan pembangunan Bandara Kulon Progo. Intinya wilayah tersebut bukan wilayah padat penduduk. Sehingga tidak banyak perumahan yang akan direlokasi. Letaknya di dekat pantai juga dinilai strategis ketimbang membangun bandara di luar daerah Kulon Progo yang justru dinilai lebih memiliki resiko yang besar. Beliau juga mengatakan bahwa selama pembangunan warga masih diberi akses untuk keluar masuk wilayah pantai. Ketika bandara di bangun nanti, akses para nelayan tidak akan terganggu. Sistem agraria akan tetap baik-baik saja mengingat tidak banyak lahan pertanian pokok seperti padi disana. Hanya pertanian seperti buah-buahan seperti semangka, melon, dan cabai yang itupun juga tidak akan terganggu dengan relokasi bandara.

Jangan Resah Soal Bandara

            Dalam perbincangan dengan Bambang Istiyanta, sempat pula menyinggung keresahan warga mengenai efek negatif pembangunan bandara Kulon Progo disamping mereka menyetujui pembangunan tersebut. saat itu beliau menuturkan bahwa dalam masalah perekonomia masyarakat kita harus terus aktif dan kreatif serta mandiri. Jangan jadi penonton yang hanya berdiri diam dan melihat. Masyaraat harus cekatan dan tanggap dengan apa yang akan terjadi dari perubahan besar-besaran yang akan terjadi. Terutama dalam hal perekonomian. Pemuda diharapkan tidak melulu berharap bisa turut mendapat pekerjaan masa depan di ruang lingkup bandara dengan praktis. Mengingat rencananya banyak profesi di ruang lingkup bandara yang berasal dari Angkasa Pura. Angkasa Pura yang mengambil sebagian besar tugas menjalankan fungsi bandara. Pemuda diluar itu harus pintar-pintar membaca peluang. Baik peluang usaha, pariwisata, atau bisnis jasa lainnya yang berkaitan dengan pengoprasian bandara tersebut. Kalau sampai pemuda mampu melakukannya maka perekonomian di Kulon Progo akan berhasil dan akan jauh lebih baik dari sekarang.
Jangan resah soal pembangunan bandara, yang patut diresahkan adalah pembangunan tol. Kalau pembangunan bandara dinilai akan menelan banyak korban relokasi dan akan mematikan sistem agrarian, maka itu dinilai tidak seberapa jika dibandingkan dengan pembangunan tol yang juga sempat rencananya akan dibuat di Kulon Progo. Pembangunan tol ini justru akan memakan banyak wilayah warga yang terelokasi. Mengingat luas dan panjangnya lahan yang akan dipakai. Tak hanya perumahan tapi persawahan akan terkena imbas pembangunan jalan tol sedangkan pembangunan bandara hanya sedikit wilayahnya dan tidak menganggu sistem agraria. Selain itu sistem retribusi yang wajib diterapkan di akses jalan tol juga menjadi petimbangan. 

Sistem Agraria dan Nasib Nelayan 

            Bandara tidak akan merenggut sistem agraria. Bandara tidak akan mengganggu produksi padi di Kulon Progo. Sawah masih tetap berfungsi dengan baik. Tidak ada sawah yang tergusur. Petani padi tidak banyak dijumpai di kawasan relokasi bandara. hanya berupa tanaman-tanaman musiman seperti semangka, melon, dan cabai yang tumbuh disekitar kawasan relokasi bandara. Tambak udang masih aman dan nelayan masih bisa mendapatkan akses untuk mencari ikan.
            Menurut Bambang Istiyanta, justru sistem agrarian khususnya penanaman padi akan dikembangkan di wilayah Kulon Progo daerah Nanggulan dan Girimulya dimana letaknya di pegunungan hijau dan jauh dari relokasi bandara. Kulon Progo masih luas. Menurutnya, seharusnya agrarian digalakan di kawasan-kawasan pegunungan tersebut dengan memanfaatkan lahan-lahan yang ada. Sebagai seseorang yang sering andil dalam perencanaan pembangunan, beliau menuturkan bahwa sudah dilakukan pembukaan lahan sawah di kawasan Nanggulan untuk ditanami padi, dan akan berencana untuk menggalakan pertanian lain di berbagai wilayah Kulon Progo khususnya pertanian buah-buahan seperti melon dan semangka dengan memanfaatkan teknologi pertanian terbarukan. Sehingga bisa mengganti produksi melon di kawasan relokasi bandara bila memang benar bandara akan mengganggu produksi buah-buahan tersebut.
            Mengapa perlu menggalakan pertanian di wilayah seperti Nanggulan dan Girimulyo, bagaimana dengan kawasan kota seperti Wates? Beliau menuturkan bahwa memang kini persawahan di Wates sudah semakin sedikit. Artinya telah banyak yang digusur. Bukan karena Bandara. Justru pembangunan kampus-kampus dan ruko-ruko lainnya. Contohnya perluasan kampus UNY Wates berdampak semakin sempitnya wilayah persawahan karena harus menggunakan lahan persawahan untuk membuat bangunan. Belum lagi UGM yang juga berencana membangun sekoah vodkasi di kawasan Terbah yang juga merenggut lahan persawahan. Beliau berpendapat bahwa memang benar nantinya Wates akan menjadi kota yang besar apabila pembangunan berjalan dengan baik. Perekonomian akan meningkat tajam apalagi dibarengi dengan adanya bandara baru. Untuk itu, sebisa mungkin sistem pertanian akan ditingkatkan di wilayah-wilayah seperti Nanggulan, Girimulyo, Kokap, dan sebagainya dimana jauh dari imbas pembangunan besar-besaran tersebut. 

Membuka Hati dan Wawasan Masyarakat Setempat 

            Tanpa sadar jagongan bersama Bambang Istiyanta dan warga kala itu sekaligus membuka cakrawala baru bagi warga yang turut serta dalam jagongan. Setidaknya ada dorongan kepada warga untuk bersama-sama menyongsong dan menyambut perubahan yang baru. Dengan persiapan yang matang maka segala perubahan akan menjadikan dampak positif yang besar. Warga tidak hanya tahu sebatas bayang-bayang kemajuan di masa depan, namun bisa memahami bahwa untuk kemajuan perlu tindakan yang besar dan itu dimulai dari sekarang.
            Tidak salah Bambang Istiyanta memilih Karangsari sebagai sasaran komunikasi politiknya. Sikap yang diberikan oleh Bambang Istiyanta dalam berkomunikasi dengan masyarakat secara langsung dan membuka wawasan masyarakat dilakukan dengan cara mengobrol bersama-sama atau disebut dengan jagingan seperti saat dimana saya mewawancai beliau. Mengingat sebagaian besar warga Karangsari masih jauh dari hingar bingar modernitas dan media massa, membuat metode pendekatan ini menjadi lebih efektif. Tidak banyak informasi yang dapat dipetik melalui media massa khususnya di desa yang masih terpencil dan minim jaringan internet.

Jagongan Sebagai Bagian dari Posisitioning
 
            Bambang Istiyanta menyadari akan perubahan peta pemikiran masyarakat tentang politik setiap saat. Kumpul bersama warga sering kali dianggap sebagai bagian dari kampanye politiknya agar mendapat kepercayaan saat kembali mengajukan dirinya sebagai anggota DPRD di periode selanjutnya. Warga sekarang juga telah memiliki kesadaran untuk menghentikan aksi money politic. Tapi apabila ia memang akan mengajukan dirinya sekali lagi di periode selanjutnya ia tetap akan memilih Karangsari sebagai segmentasi sasaran politiknya dan memposisikan dirinya semata-mata sebagai wakil dari Desa tersebut untuk menyalurkan aspirasi masyarakatnya. Dengan berkumpul bersama warga atau jagongan ini Bambang Istiyanta mengambil hati masyarakatnya. Kedekatannya kepada masyarakat menjadi alasan masyarakat memepercayainya. Apalagi jika selama ia menjabat sebagai anggota DPRD di periode ini telah banyak yang ia lakukan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat dan turut mengembangkan perekonomian dan infrastruktur masyarakat maka ia telah memberi bukti dengan langkahnya.
            Berbicara seputar komunikasi politik modern, Bambang Istiyanta mengaku tidak memberlakukan ini di ranah segmentasi sasaran politiknya di Desa Karangsari. Perkembangan komunikasi politik modern sekarang ini memang telah menggunakan berbagai media massa baik digital maupun konvensional. Namun beliau membaca bahwa sebagian besar masyarakat di Desa Karangsari terbiasa dengan pendekatan secara langsung dan memasyarakat. Karena masyarakat di Karangsari menginginkan bukti nyata dari hasil kerja seorang anggota DPRD dan bukan persoalan visi dan misi. Apapun yang dikerjakan oleh anggota DPRD adalah murni tugas dan tanggung jawab sebagai wakil masyarakatnya.
           



Read More
    email this       edit

Selasa, 12 Desember 2017

Published Desember 12, 2017 by with 0 comment

Kabar Surat Kabar Semenjak Munculnya Media Baru



Kabar Surat Kabar
Semenjak Munculnya Media Baru (Internet)
Eka Putriyana Widyastuti/16419141010

Surat kabar menjadi sangat berperan dalam penyampaian informasi sejak era Hindia Belanda. Ditandai munculnya surat kabar berbahasa belanda Batavia en Politique dan setelahnya munculnya Medan Prijaji, surat kabar yang dibuat dengan bahasa Indonesia oleh seluruh tenaga kerja yang juga dari Indonesia. Seiring berjalannya waktu surat kabar hampir tergerus keberadaannya sejak munculnya media baru yaitu radio yang merupakan media komunikasi berupa audio. Radio dianggap lebih mudah dalam menyampaikan pesan dan bentuk modernitas dalam penyampaian informasi. Sama seperti halnya surat kabar, keberadaan radio sempat dipertanyakan keeksisannya setelah munculnya media audio visual televisi. Radio dan surat kabar seolah menjadi media yang terpinggirkan dan bukan lagi menjai prioritas masyarakat dalam mencari sumber informasi. Namun di masa itu, dimana radio dan televisi muncul keberadaannya, surat kabar mampu mempertahankan dirinya menjadi media cetak yang menjadi sumber informasi yang literat. Ketiga media tersebut mampu berjalan berdampingan seiring waktu. Meski perkembangan media cetak tahun demi tahun mengalami pernurunan semenjak adanya media baru tersebut.
Dilansir dari data Serikat Perusahaan Pers (dh/Serikat/ Penerbitan Surat Kabar/SPS) tahun 2013 menyebutkan, bahwa di tahun 2011, jumlah penerbitan media cetak adalah sejumlah 685 baik koran harian maupun mingguan dengan jumlah tiras atau keterjualan mencapai 10,5 juta eksemplar. Di tahun 2012, jumlah penerbitan menurun menjadi 630 penerbitan dengan tiras 10 juta eksemplar. Dan di tahun 2013, jumlah penerbitan semakin menurun menjadi 514 penerbitan dan tiras sejumlah 10 juta eksemplar. Dan di tahun 2017 ini, ketua SPS Ahmad Djauhar, memprediksi bahwa masih akan terjadi penutupan media cetak hingga akhir 2017, yang disebabkan menurunnya pemasukan utama yakni iklan yang turun hingga 40%. Melihat hal tersebut, lalu bagaimanakah nasib dari surat kabar saat ini sebagai akibat datangnya media baru?

Kabar Surat Kabar Konvensional di Berbagai Negara

Dilansir dari Pressreader, Di Asia seperti China dan India minat baca khalayak terhadap surat kabar konvensional atau cetak masih sangat tinggi meskipun internet sudah berkembang luas disana. Diperkirakan selama lima tahun kedepan, terhitung dari tahun 2015, China dan India diperkirakan masih mempertahankan eksistensi surat kabar. Mengingat minat baca dan tumbuhnya literasi media yang tinggi di kalangan masyarakat disana, membuat sebagian besar khalayak suka membaca dan memanfaatkan surat kabar untuk mencari sumber informasi yang layak. Sedangkan gerusan digital media sangat terasa di kawasan Eropa dan Amerika Serikat. Telah banyak surat kabar yang tutup dan beralih ke digital. The New Day yang baru saja didirikan pada tahun 2016, hanya berumur selama satu tahun dan kini telah beralih ke digital media. Penurunan global media cetak dan koran yang terjadi Eropa dan Amerika tersebut juga akan dirasakan di Indonesia diperkirakan akan mengalami penurunan menjadi 400 surat kabar yang bertahan di akhir tahun 2017 ini.
Di Indonesia telah banyak dijumpai berbagai surat kabar dalam bentuk media online. Kompas.com, Detik.com, Tempo.co, BBC News dan sebagainya adalah contoh dari beberapa surat kabar memanfaatkan peluang perubahan media untuk melebarkan sayapnya. Mereka memahami apa yang masyarakat perlukan saat ini. Kebutuhan informasi yang cepat dan up to date yang dibutuhkan masyarakat menjadikan momen ini sebagai kesempatan beberapa surat kabar untuk tidak hanya berhenti dengan media cetak saja namun semakin merambah pula ke media online.  Media online memberikan fasilitas bagi khalayak untuk mendapatkan banyak berita baru, mudah, cepat, dan murah setiap hari. Ditengah kesibukan khalayak, mereka akan dengan mudah menjangkau segala informasi berita tanpa membawa sebuah koran kertas, hanya dengan telepon pintar mereka masing-masing.
Hadirnya Internet Dianggap Peluang
Kini media tidak hanya lagi berupa cetak, audio visual seperti radio dan televisi, namun merambah ke media online sejak datangnya internet. Radio dan televisi konvensional mulai tergerus sejak adanya internet. Lalu bagaimana dengan surat kabar, media yang terbentuk sebelum adanya radio dan televisi? Perubahan media saat ini, telah menjadi sebuah tantangan dan peluang bagi surat kabar di Indonesia. Menurut Stoltz (1997) dalam jurnal R.Masri (2013: 1) mengatakan bahwa perubahan (changes) selalu mengandung dua kemungkinan, yakni ancaman dan peluang. Bagi orang mempunyai jiwa optimis akan menganggap hal tersebut adalah peluang besar untuk melebarkan sayap industri media, namun bagi orang yang pesimis justru akan mengancam pondasi industri medianya.
 Dari hasil wawancara yang kutip dari laman BBC.com bersama Nukman Lutfhie, Direktur Virtual Consulting, sebuah perusahaan konsultan media dan internet di Jakarta mengatakan bahwa sekarang ini di Indonesia, rata-rata orang menghabiskan waktu 2,3 jam perhari, internet 2 jam, sementara membaca koran hanya 34 menit. Sedangkan menurut data dari APJII (Asosiasi Jasa Pengguna Internet Indonesia) pada tahun 2013 ada sebanyak 82 netizen dan hingga pertengahan 2017 ini telah terjadi peningkatan jumlah netizen menjadi 145 juta netizen diiringi semakin menurunnya jumlah penerbitan media cetak dan keterjualannya. Itu berarti, khalayak kini tidak lagi memprioritaskan media cetak sebagai sumber informasi mereka. Adanya internet membuat khalayak semakin beralih ke media online dengan bukti semakin meningkatnya jumlah netizen di tahun 2017 ini. Menyikapi hal ini, bagi industri media cetak yang peka terhadap kemajuan teknologi, akan memposisikan dirinya sesuai dengan perkembangan teknologi tersebut. Mereka berangsur-angsur akan mentransformasikan dirinya menjadi media online demi memahami kebutuhan khalayak yang semakin menginginkan datangnya informasi dengan cepat, mudah, dan murah.
Khalayak kini tidak banyak yang memilih membaca berita utama pada koran atau media cetak. Berita utama sudah dipublikasikan lebih cepat melalui media online. Surat kabar kini hanya dibutuhkan khalayak hanya sebatas untuk mengambil informasi berupa opini, tokoh, dan sosok. Apalagi isu-isu less paper yang kian gencar disebarluaskan ke masyarakat luas, membuat sebagian khalayak menyadari pentingnya menghemat kertas dan lebih memilih menggunakan gadget mereka dan beralih ke e-paper yang juga kian mudah diakses melalui jaringan internet yang semakin mudah diakses di Indonesia.
Pengaruhnya bagi Khalayak
Media online yang menyajikan berita dengan cara yang berbeda inilah yang menimbulkan dampak serius bagi khalayak. Bagaimana dengan tingkat kemampuan baca mereka terhadap wacana? Keadaan semakin diperparah dengan banjirnya informasi dari berbagai media online di setiap detiknya membuat banyak khalayak sulit memfilter berbagai informasi yang masuk. Khalayak semakin sulit membedakan mana wacana yang seharusnya dibaca maupun yang tidak. Khalayak kini tidak lagi belajar memahami isi atau peristiwa dalam berita namun hanya mengingat berita tentang apa tanpa paham bagaimana isinya. Cepatnya informasi yang didapat dari media online, membuat khalayak tidak membaca berita sampai ke akarnya. Terkadang kemampuan mereka hanya sebatas membaca cepat dan bahkan hanya membaca headline-nya saja.
Secara umum media mempunyai tujuan agar khalayaknya mempelajari peristiwa, tetapi media tidak berusaha mengajar orang-orang tentang hal-hal yang ada dalam berita. (McQuail: 1987: 246). Media online ini akan sangat bermanfaat bagi khalayak apabila khalayak mampu mengontrol dengan baik penggunaan media online internet tersebut. Khalayak diharapkan mampu memilih wacana berita sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing atau sesuai dengan bagian mana yang ingin dibaca sehingga yang lain bisa diabaikan bila merasa perlu diabaikan. Dengan begitu kepahamanan khalayak terhadap isi wacana akan lebih tinggi dibanding khalayak membaca semua berita namun tidak sampai ke akarnya.
Dalam meningkatkan pemahaman terhadap wacana dalam media online, perlu adanya sebuah kontrol komunikasi internet yang interaktif. Menurut Williams, Rice, dan Rogers 1998 dalam Jurnal Hadi (2009: 75) mengatakan bahwa kontrol komunikasi internet ada pada pengguna. Internet mampu memberikan informasi dari pada sekedar persuasi. Internet bukan sekedar menawarkan suatu hal untuk bersenang-senang. Jika khalayak dapat menggunakan internet dengan baik, maka ia akan mendapatkan beragam informasi dengan mudah dan benar. Sesuai dengan fungsi media, dimana sebuah media termasuk internet berfungsi untuk to inform, to educate, to persuade, dan to entertain. Jika khalayak ingin menggunakan internet untuk mencari informasi yang benar, maka khalayak perlu menggunakan internet sesuai dengan fungsinya yaitu to inform. Ada banyak sumber berita di internet yang menjamur. Maka perlu khalayak mencari sumber berita yang benar. Walaupun secara tidak sadar, internet mampu memberikan fungsi to persuade atau mempengaruhi pola pikir khalayak, namun khalayak perlu memfilter mana yang seharusnya perlu diikuti atau yang tidak perlu diikuti. Banyaknya komentar ujaran kebencian dan komentar provokatif di media online saat ini, membuktikan bahwa internet juga memberikan fungsi to persuade, meskipun hal tersebut seharusnya berimbas positif atau ajakan kebaikan namun realitanya banyak pengguna internet yang menggunakan internet untuk menulis wacana yang provokatif.
Perlunya Koran Beradaptasi
            Internet tidak akan mematikan peredaran koran. Justru akan memberikan peluang besar bagi industri media cetak untuk perlahan menyesuaikan jaman. Tidak ada salahnya apabila koran memperbaiki tampilannya. Koran yang semua merupakan media cetak, tidaklah mengapa apabila menambahkan elemen lain di dalam tubuhnya. Koran yang merupakan media cetak akan tetap bertahan, namun sebaiknya beriringan dengan perkembangan jaman. Artinya, koran tidak harus menjadi egois menganggap sebagai satu-satunya media cetak dan paling diutamakan. Mengingat kebutuhan khalayak akan informasi yang cepat, murah, dan mudah di akses, ada baiknya koran mengembangkan diri menjadi media online pula.
            Banyak koran yang pada akhirnya mati seperti sinar harapan dan harian bola. Kebanyakan karena kesulitan dalam menyesuaikan diri terhadap perkembangan teknologi. Sehingga menganggap internet adalah pembunuh media cetak. Padahal bila membaca peluang, justru dengan internetlah mereka akan bertahan. Seperti harian kompas, yang juga mengembangkan dirinya menjadi media online namun tetap mempertahankan komitmen mereka sebagai penyaji berita akurat melalui media cetak, mengingat banyaknya media online yang tidak mengedepankan jurnalismenya dan hanya untuk meningkatkan traffic-nya, Kompas, menganggap bahwa media online adalah skoci pada perahu. Tetap dibutuhkan, namun lebih baik menggunakan perahu dahulu sebelum skoci. Lebih baik tetap membaca media cetak, mengingat banyak tulisan berkualitas disana, meski tetap mengandalkan media online dalam kondisi terentu. (https://www.kompasiana.com/pepihnugraha/bukan-saatnyasenjakalakami_568babb1f4927
3920975 c22b diakses tanggal 13 Desember 2017)


           





Daftar Pustaka

Imran, Hasyim Ali. 2012. “Surat Kabar dan Khalayak: Sebuah Tinjauan”. Jurnal INSANI STISIP. No 12. Juni 2012. Hal 50.
Putra, R Masri Sareb. 2013. “Studi Kasus Migrasi Kompas Analog ke E-Paper dan Online”. Jurnal Ultima Humaniora. Vol 1 No 1. Maret 2013. Hal 1.
McQuail, Denis. 1987. Teori Komunikasi Massa; Suatu Pengantar. Jakarta. Edisi Kedua: Erlangga. Hal 246.
Hadi, Ido Prijana. 2009. Perkembangan Teknologi Komunikasi dalam Era Jurnalistik Modern. Jurnal Ilmiah SCRIPTURA. Vol 3 No 1. Januari 2009. Hal 75.
Inc.https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170704/281749859377136 diakses pada 29 November 2017
http://id.m.spsindonesia.org/ Diakses tanggal 11 Desember 2017
https://www.kompasiana.com/pepihnugraha/bukan-saatnya senjakalakami_568babb1f49273920975c22b diakses tanggal 13 Desember 2017






Read More
    email this       edit