Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Maret 2017

Published Maret 20, 2017 by with 0 comment

Aku Datang dari Desa

Aku Datang dari Desa

Oleh Eka Putriyana Widyastuti



"Aku datang dari desa kak"

"Aku merantau disini"

"Mencari ilmu dan kemajuan"

Sahaja Permata. 19 Tahun. Sesuai namaku, aku ingin menjadi permata yang berkilau namun tetap bersahaja. Aku adalah seorang perantau. Tidak untuk mencari nafkah, namun mencari setitik ilmu. Sudah lebih dari setengah tahun, hari-hariku kuisi dengan menuntut ilmu di kota pelajar. Aku datang dari pelosok. Tepatnya bagian paling Timur Jawa tengah. Hidupku jauh dari hingar bingar dan riuh kota. Bersahaja. Satu kata yang menggambarkan kehidupanku disana. Jauh dari konflik karena modernitas. Tapi penuh dengan gotong royong dan saling memahami.

Kini, aku meninggalkan desaku. Sebentar saja. Hanya sekejab. Karena aku akan kembali dengan harapan besar untuk desaku kelak. Membawa kemajuan untuknya nanti. Itu janjiku pada tempat kelahiranku dimana aku dibesarkan hingga sekarang.

Aku memilih Yogyakarta sebagai tempat aku mencari ilmu. Berawal dari opini masyarakat yang mengatakan Yogyakarta adalah kota pelajar, aku berangkat dengan penuh keyakinan dari desaku. Sendiri. Dengan tekad yang bulat. Orang tuaku hanya sebatas mengawasiku dari jauh. Dengan bermodal telepon dan sms. Itupun jika disana ada sinyal. Terkadang sinyal tak ada setiap saat. Begitu pelosok hingga sulit membuat sinyal handphone stabil. 

Aku memilih jurusan ilmu komunikasi. Berkat seorang temanku, Rani yang dari SMA, aku dikenalkan dengan jurusan yang sangat dekat dengan kemajuan itu. Tertarik, kuputuskan untuk memilih Ilmu komunikasi UNY. Itu pun berkat rekomendasi temanku itu. 

Aku cukup kesulitan saat mengikuti tes masuk perguruan tinggi demi masuk ke jurusan itu. Latar belakang sekolahku yang merupakan Sekolah Menengah Jurusan, membuatku harus belajar dari awal ilmu-ilmu sosial demi dapat menyelesaikan soal-soal berkategori SOSHUM itu. Masih ingat saat itu, aku harus berdebat dengan orang tuaku. Keinginanku untuk mengambil les tambahan di tempat bimbel harus mendapat pertentangan oleh orang tuaku. Biaya yang mahal dan tempat yang jauh tentu membuat mereka harus berpikir ulang untuk mengijinkanku. Kembali kutunjukan rasa semangatku yang menggebu, hingga membuat mereka pun luluh. 

Dan sinilah aku sekarang. Perjuanganku membuahkan hasil. Berkat doa orang tua dan semangatku. Bermodal tekad yang kuat, aku harus siap menghadapi apapun di tempat yang begitu bertolak belakang kondisinya dengan tempat tinggalku. 


"Boleh kakak minta id line mu?"

"Maaf kak, saya belum punya android."

Hari-hari memalukan bagiku. Saat aku sedang gencar-gencarnya beradaptasi. Kenapa aku tak pernah terpikir untuk membeli hp android dulu sebelum memulai kehidupanku disini. Padahal sebelumnya aku sudah diwanti-wanti Rani untuk membeli android. Karena hidup dikota berasa mati bila tak ada android. Semuanya menggunakan internet untuk berkomunikasi. Apalagi aku akan masuk di jurusan yang sangat berkaitan dengan media. Termasuk media sosial. Tentu aku harus punya modal. 

"Oke. Kakak catat saja nomor teleponmu"

" Baik kak." 

Masih ada nomor telepon. Kakak itu bisa menghubungiku dengan nomor telepon. Sambil berharap proses registrasi masuk perguruan tinggi ini cepat selesai aku segera memberikan nomor hpku. Sebelum aku ditanya hal-hal yang dapat membuatku malu. 

Hari ini, aku sedang melakukan tes wawancara Pemilihan minat dan bakat dari UKM jurnalisme di kampusku. Kujawab semua pertanyaan kakak tingkat yang mewawancaraiku dengan sejujur-jujurnya. Kubilang padanya bahwa aku benar benar ingin belajar. Bukan belajar menjadi pandai layaknya cendikiawan. Aku ingin belajar terbuka dan peka terhadap peristiwa. 

“Aku datang dari desa kak”. Aku mengerti posisiku saat ini. Cukup menantang memang. Aku yang ibaratkan masih kolot datang dari pelosok, berani mengambil resiko tekanan dengan mendaftarkan diri sebagai mahasiswa komunikasi di kampusku sekarang ini. Aku tak mengerti apa-apa tentang komunikasi. Ilmu yang kata orang sangat kekinian. Sedang aku jauh dari kata kekinian. Jaringan internet yang lemah di rumahku menghambatku untuk berselancar mengikuti arus kekinian yang semuanya serba menggunakan internet. Aku hanya sekedar tahu saja. Sosial media seperti instagram, youtube, facebook, twiter, path dan sebagainya. Hanya saja aku tak dapat menikmatinya setiap saat. Apalagi lingkunganku yang masih bersahaja. Pemuda-pemudinya masih polos. Bagi kami, hal-hal kekinian masih tabu untuk diikuti. Kondisi ekonomi kami juga tak mungkin mendukung kami untuk mengikuti. Apalagi bagi kami, hal-hal kekinian masih dianggap tak mungkin diikuti mengingat kondisi sosial kami yang masih kental dengan budaya dan tata krama. Yang tentu saja membuat kami harus membatasi perilaku kami. Memegang handphone saat berbicara dengan orang tua saja dianggap tak sopan. 

Lalu mengapa aku memilih untuk mengikuti arus kekinian, dengan masuk ke jurusan yang dianggap kekinian? Jadi, apakah aku mencoba tak mematuhi aturan di tempat tinggalku? Bukan. Bagiku ini langkah untuk berubah. Bukankah tak masalah aku menjadi orang kekinian tapi masih taat aturan? Komunikasi erat hubunganya dengan media. Erat hubungannya dengan banyak orang. Lewat ini, aku sadar bahwa ada saatnya setiap orang untuk bergerak dan muncul ke permukaan. Tidak hanya bersembunyi dalam titik aman dan nyaman saja. Suatu saat nanti, aku akan jadi orang yang sukses. Dan caranya aku harus jadi pemuda yang mengikuti jaman, peka terhadap berbagai peristiwa, dan berani mengambil langkah untuk maju dan sukses. Latar belakangku dari desa tak akan menghambatku untuk berjalan maju.

Toh aku sekarang sudah menjadi anak kota. Tinggal di kota, walau statusnya hanya perantau saja. Tapi cukup untuk merasakan hingar bingar dan riuh kota. Melihat bagaimana pemuda-pemudi kekinian melakukan aktivitasnya, bermain, belajar, eksis, nongkrong, dan sebagainya. Banyak sekali aktivitas mereka ternyata. Di lingkunganku, pemuda-pemudinya hanya dapat nongkrong di warung-warung sambil membicarakan pekerjaan mereka masing-masing dan tentang si kembang desa yang manis aduhai. Hanya sebatas itu-itu saja. Beda denganku sekarang, acara nongkrongku lebih berkualitas. Aku membicarakan berbagai projek dengan teman-temanku saat ini. film, foto, tulis-menulis, vlog. Sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku juga bebas bermain di sosial media. Membuatku terbuka pada dunia. Ada banyak hal yang aku ketahui lewat sosial media. Baik sesuatu yang baik maupun buruk dan tak patut dicontoh. 

Setelah satu semester berlangsung, pelan-pelan aku mulai mengikuti arus. Aku mulai paham apa yang harus aku pelajari. Broadcasting salah satunya. Demi kelancarannya, aku mencoba ikut ukm radio. Bermaksud untuk mengolah kemampuan bicaraku. Aku tahu, ukm radio sangat menuntut untuk dapat mengikuti arus perkembangan jaman. Tesnya saja tak jauh-jauh dengan dunia entertaiment. 


"Apa yang kau tahu tentang kehidupan anak-anak di kota?" Kakak itu memberikan pertanyaan lagi. 

"Bersahaja kak"

"Bersahaja? Bagaimana bisa begitu? Tak kamu lihatlah para anak-anak di kota yang dekat dengan modernitasnya? Moral yang mulai lenyap? Bagaimana dengan tata krama yang mulai pudar?" Kakak itu memberondongku dengan pertanyaannya.

"Iya bersahaja kak. Apabila mereka menjadi anak yang sadar kemajuan sekaligus sadar nilai-nilai, moral, dan budaya. Aku datang dari desa kak. Tak banyak gambaran modernitas di sana. Setelah saya disini, saya mengenal modernitas. Banyak kemudahan untuk berkarya. Banyak inspirasi yang dapat dari mana saja. "

"Dan saya berharap. Alangkah hebatnya pemuda di negeri ini apabila mereka penuh karya. Memanfaatkan kebebasan untuk berkarya yang ada saat ini dengan masih memegang moral dan nilai-nilai serta budaya." 

"Lalu apa misimu, sebagai orang desa yang datang ke kota?"

"Saya tak ingin terbelenggu dengan moral dan nilai yang ditanamkan di desa saja tanpa berkarya. Saya ingin menjadi orang yang maju. Mengikuti segala peristiwa di sekitar saya. Terus berkarya disetiap peristiwa yang saya lalui. Dan tetap memegang nilai dan moral yang diajarkan dari saya kecil."




Cerpen ini aku buat karena aku terinspirasi dari cerita kawanku se prodi tentag dirinya dan semangatnya untuk berubah ke arah yang lebih maju. Makasih ya... Semoga bisa menjadi pelajaran kita semua.


Read More
    email this       edit

Jumat, 02 Desember 2016

Published Desember 02, 2016 by with 0 comment

Terlanjur Cinta

Here my stories. Memang baru sedikit yang aku post. Belom banyak. Karena aku ngga ada banyak waktu buat bikin cerita. Apa yang aku tulis dibawah ini merupakan sedikit gambaran tentang drama hidupku. wkwk. Nyebelin -_-    Sesuai dengan jargonku disini aku berekspresi. Terserah aku mau bilang apa. Yang penting aku mau mencurahkan semuanya disini. Bisa lewat apapun. Baik tulisan maupun foto. Mungkin bahkan besok aku buat vidio. Dan yang dibawah ini adalah sedikit cerita dari aku. Harap maklum. Ini aku adanya. 


Terlanjur Cinta
Echino
Prolog
Malam minggu menyedihkan. Sepulang dari kosan sabtu pagi, aku bertemu dengan Ayah dan Bunda di rumah. Wajah mereka yang berseri-seri seketika berganti dengan wajah penuh amarah. Wajar saja, semua itu disebabkan tidak lain oleh kelakuan anaknya sendiri, ya itulah aku. Baru saja beberapa menit setelah aku masuk rumah dan nyemil makanan di ruang tengah, Ayahku datang menghampiriku.
² Pulang kok nggak bilang-bilang to nduk, kan Ayah bisa jemput² Ayahku membuka obrolan siang hari.
² Lha memang Ayah mau jemput aku di kampus? Bilang aja cuma basa-basi. Ini Sabtu kan Yah? Aku tahu, mana mungkin Ayah mau suka rela njemput aku dan mengorbankan weekend Ayah yang menyenangkan² Kataku menimpali kata-kata Ayah barusan. Ayahku bekerja dari senin sampai jumat di subag pendidikan di salah satu fakultas di kampusku. Yang jelas bukan di fakultasku. Dan dari semua hari itu, Ayah bekerja hampir fullday. Saking rajinnya Ayahku bekerja. Aku tahu dia pekerja keras. Makanya dihari liburnya ini, sabtu dan minggu, Ayahku selalu nggak mau beranjak kemana-mana. Hanya menghabiskan waktu dirumah merawat kolam-kolam lele. Sudah jadi hobi Ayah memelihara ikan di kolam-kolam. Walau hasilnya ngga banyak-banyak amat.,tapi senangnya bisa berbagi ke tetangga tiga bulan sekali tiap lele-lele sudah siap panen. Selain merawat kolam-kolam, Ayahku paling sesekali mengantarkan Ibu ke pasar. Ibuku punya warung kelontong, seminggu sekali ia berbelanja di pasar untuk dijual lagi di warung. Dan hari ini, ayahku longgar. Ia ngga lagi ada pekerjaan apapun dirumah, makanya bisa ngobrol denganku.
² Ya bukan gitu, tadi barusan Ayah juga dari jogja. Kondangan tadi di auditorium² Ayahku sedikit mengelak dan aku sedikit menyesal kenapa Ayah tadi tak menelponku saja. Supaya kita bisa barengan pulangnya. Kan aku jadi nggak perlu repot-repot naik motor sendiri sebegitu jauhnya dari jogja ke wates.
² Kok Ayah nggak telpon aku sih, kan aku jadi bisa bareng tadi² kataku sebal pada Ayah.
² Ayahmu ngga bawa hp tadi. Ketinggalan dirumah. Dicariin di halte rektorat kamunya ga ada.² Bunda tiba-tiba menimpali kata-kataku. Perkedel tahu kesukaanku yang masih hangat sambil ditaruhnya di atas meja. Aku mengambilnya satu.
² Lha kan tadi aku nggak naik suttle . Aku kan bawa motor. Pantes lah ngga ada di halte.² kataku sambil mengunyah perkedel tahu kesukaanku. Huh asin, pasti Bunda minta kawin lagi.
²Kok asin bun perkedelnya, nggak suka ah.² Aku menaruh sisa perkedelku ke piring kembali.  Kulihat wajah Ibu sedikit kecewa.
² Jangan kembaliin di piring lagi. Jorok kamu. di makan semua kasian lah Bunda udah masakin. ²  Dari kata-kata Ayahku, sepertinya ia  memihak Bunda. Huh payah. Emang asin kok, awas aja kalau Ayah tiba-tiba kayak aku pas makan perkedel tahu buatan Bunda.
²Ih Ayah, cobain deh emang asin kok. Maybe Bunda minta kawin lagi tuh²
²Hush ngawur kamu, kamu tuh yang udah mau minta kawin. Kawinin aja yah buruan. Biar kita cepet dapat mantu²
²Bunda Apa apaan. Ya sekolah dulu lah. Biar besok cucu-cucunya juga pinter-pinter.² Yes, kini Ayahku membelaku.
²Aku mah maunya pindah jurusan bun bukan mau kawin. Upss.² Huh ember borot balon meletus kenapa sampe keluar tuh kata-kata bisikan setan dari mulutku. Bakal ada badai apa lagi nih nanti. Kulihat Ayahku sudah melotot. Aku jadi takut. Ibuku terdiam aku jadi ngeri. Tuhan pliss jangan sampe ada pertengkaran lagi diantara kami.
²Pindah jurusan? Kalau begitu Ayah sudah tidak akan membiayaimu lagi. Terserah jika kamu masih terpikirkan untuk itu. Ayah menyerah. ²
Ayahku mulai tersulut emosinya. Sepertinya Ayahku muak dengan segala keluh kesahku tentang kampus. Pernah suatu ketika sesudah aku diterima snmptn, aku meminta pada Ayahku untuk diberi kesempatan mengikuti sbmptn atau ujian mandiri lagi. Tapi Ayahku menolak keras. Ayahku sudah sangat jatuh cinta dengan jurusan ilmu komunikasi. Jurusan yang katanya dinamis dan prospek kerja yang bagus. Aku memilih jurusan tersebut saat snmptn atas usul Ayahku. Aku mengikutinya saja. Toh aku berpikir aku juga tidak diterima. Pasalnya aku bukan dari IPS. Aku dari IPA.
Saat itu sebenarnya aku sangat ingin memilih pendidikan Biologi atau kimia di UNY. Tapi Ayahku membelokkan keinginanku. Jadi mau tak mau aku harus mengklik jurusan itu di formulir pendaftaran snmptn online. Saat itu pula aku harus sedikit mengenyampingkan mimpiku yang ingin menjadi seorang scientist. Padahal dulu aku sudah menyusun banyak rencana. Rencananya dulu aku bakal milih Biologi dan Kimia untuk snmptn.  Jika aku tak lolos snmptn kedua-duanya, aku akan mendaftar di poltekkes. Aku ingin jadi Ahli gizi. Bekerja di perusahaan sebagai peneliti obat dan makanan.
Demi langit dan bumi, aku begitu cinta dengan Biologi dan Kimia. Tapi harus dipatahkan karena Ayahku ingin aku jadi anak yang sosialis. Pandai bersosialisasi, berbicara di depan umum, supel dan apalah-apalah. Wajar saja, selama aku jadi anak IPA, kegiatanku begitu monoton. Sekolah, les, praktikum, nugas, sekolah lagi, praktikum lagi, les lagi, nugas lagi. Mungkin Ayahku jenuh melihat anaknya yang jadi antisosial banget saat itu. Makanya dia berusaha menuntunku untuk jadi anak supel lewat jurusan yang ia pilih ini. Tentu saja tanpa memikirkan bagaimana cinta-cita anaknya yang sesungguhnya.
Yah aku tahu, salah satu keuntunganku masuk jurusan ilmu komunikasi di UNY adalah pilihan yang tepat. Biayanya murah. Tak semahal jika aku kuliah di jurusan tenaga medis. Pasti bakal menguras kantong Ayahku banget. Belom lagi itu hanya lulusan D3. Tentu saja aku tak dapat gelar sarjana nantinya. Ayahku paling juga kurang puas jika anaknya bukan seorang sarjana. Pastilah ia juga malu didepan teman-teman kantornya yang kebanyakan anaknya lulusan sarjana bahkan s2. Ah Ayahku ini, bukankah nantinya aku bisa pilih program d4? aku juga masih bisa lanjut ke S1 kan? Aku juga bisa jadi dosen tenaga medis. Aku juga bisa melamar ke berbagai perusahaan sebagai peneliti. Tapi apakah Ayahku berpikir sampai segitu? Ayahku jelas sudah muak dengan segala bentuk ke IPA anku. Buat apa coba neliti hal-hal nggak mutu. Buat apa hitung-hitung hal-hal nggak bermutu. Jadilah anak yang menarik dan dilihat banyak orang. Hidupmu jangan monoton. Kerjaanmu Cuma di dalem ruangan dengan jas putih ngorek-ngorek eek orang dan segala hal yang menjijikan.
Ayah ku benar-benar stereotype banget. Beda dengan pakde. Pakde justru mendukung penuh anak-anaknya. Terutama di scientist. Masa bodoh dengan anaknya yang introvert dan antisosial. Yang penting anaknya bermanfaat bagi orang lain. Mas Hari yang ambil kedokteran sudah co ass sekarang. Sebentar lagi lulus dan tentu akan jadi seorang dokter. Mas Hari orangnya beneran pendiem dan nggak supel. Jutek deh kata orang. Mungkin itu yang membuat Ayahku sedikit bercermin dengan tingkah laku mas Hari. Sehingga tak mengijinkanku untuk terus berkutat dengan rumus dan angka. Ayahku ingin aku melihat dunia luar yang menarik. Disukai banyak orang karena keramahannya, dan tentu bisa cepat dapat jodoh. Kan orang supel banyak yang suka. Pasti nggak susah lah untuk sekedar cari pacar atau jodoh. Biar di ngga usah susah-susah nyariin jodoh buat anaknya yang introvert begini.
² Lha Ayah, kenapa aku harus masuk ke jurusan begitu. Sudah kubilang aku tak suka. Lihatlah anak-anaknya. Aku tak suka Yah, mereka tuh terlalu cerewet. Berisik yah. Pokoknya ngga suka. Apalagi mereka hobinya jalan-jalan kemana-mana yah. Ngevlog lah apalah. Jujur aku ngga nyaman yah. Mereka semua tukang pamer aku tak suka pokoknya. ² Aku mencoba membela diri. Siapa yang suka ditekan dengan hal-hal yang benar-benar tak kusuka. Kubuat kalimat yang sedramasir mungkin. Supaya Ayahku benar-benar mengerti yang sesungguhnya terjadi di saat aku kuliah di kampus.
² ITULAH KENAPA AYAH INGIN KAMU DISITU. Ayah hanya ingin anak ayah ini terbuka dengan dunia luar. Tak melulu jadi anak tertutup seperti kamu sekarang ini. Hobinya menyendiri. Temanmu juga Cuma itu-itu saja. Kamu pikir untuk apa Ayah memilihkan jurusan itu untukmu. Ayah tak memaksakan kamu untuk jadi jurnalis atau broadcaster atau pekerjaan berat lainnya. Ayah hanya ingin kamu merubah kepribadianmu. Selepas itu terserah kamu mau lanjut s2 atau tidak. Ambil jursan sesukamu sesudah itu. ²
Hebat Ayahku. Saking hebatnya sudah hilang logika dia. Duh Ayah, apa iya aku baru bisa merasa bebas saat aku s2 nanti. Itu tak mungkin lah. Pertama maukah Ayah membiayai aku s2? Tentu tidak lah. Pasti aku harus bekerja dulu. Kecuali aku dapet beasiswa. Kedua, masak aku harus ambil jurusan Science di S2. Keburu amnesia aku sama ilmu-ilmunya. Aku tahu itu hanya bualan Ayahku agar aku merasa seakan-akan tidak dikendarai oleh Ayahku. Habis lulus s1, aku harus bekerja. Dimana lagi jika bukan di kantor Ayahku. Sebagai seorang Humas. Atau jika tidak aku beneran akan lanjut s2 dan menjadi seorang dosen. Abaikan jurnalis, reporter, apalagi broadcasting. Aku tak mau ambil kosentrasi media.  Kenapa? Jelas aku tak suka. Aku jelek. Mana mungkin tampil didepan layar kaca. Pernahkah kalian melihat reporter yang jelek? Huh. Dunia emang kejam.
² Kamu itu put, sudah untung dibiayayi oleh Ayahmu. Dikasih hati minta jantung. Ayahmu ingin kamu ke jurusan itu, supaya kamu berubah, jangan jadi anak kuper, siapa yang mau memperhatikan anak kuper. Cari kerja pun susah. Berapapun uang yang kamu minta untuk main dengan teman-temanmu bakal Kami kasih. Tak usah khawatir. Ibu dan Ayah hanya ingin kamu melihat dunia luar. Nikmati masa mudamu. Cari pengalaman yang banyak. Jangan melulu lewat buku dan internet. Bukankah harusnya kamu senang, Ayah Ibumu membiarkanmu bebas. ²
Sampah sampah sampah. Semua yang dikatakan mereka bener-bener bikin aku mual. Aku heran, kenapa Ayah Ibu justru sungguh sungguh menginginkanku jadi anak jalanan, eh maksudnya jadi anak yang suka main keluar. Sedangkan banyak diluar sana orang tua tak membiarkan anak-anaknya berhedon hedon ria. Lha ini orang tuaku justru sebaliknya. Ah harusnya mereka bersyukur punya anak rendah hati dan tidak sombong seperti aku. Yang tak menuntut kemewahan duniawi yang semprul ini.
² Besok pagi kita ke jogja. Beli slr. Pakek uang Ayah. ²
² Ngga usah yah, besok kapan-kapan aja. Aku juga nggak minat di media²
²Ayah mau ke atm dulu. Ambil setengahnya dulu ya bun? ²
² Iya yah. Emang berapaan Yah? ²
² Enam setengah sudah sama filternya. Seri baru bun²
²Tapi Yah,, nggak usah.. ² Aku mencegah. Ayahku beranjak dari tempat duduknya.
Ah aku bisa apa. Terima ngga terima. Lihat aja hidupku setelah ini.



Read More
    email this       edit

Rabu, 23 November 2016

Published November 23, 2016 by with 1 comment

Cinta

Hari ini rasanya beku. Aku beku. Aku dingin. Gunung gunung es kembali terbentuk. Semenjak tak ada lagi pemecah keheningan dan kebekuan.
Dia berbeda sekarang. Bukan salahku yang menyebabkan dia menjauh. Bukan aku pula yang dulunya meminta dia untuk mendekat. Semuanya berjalan dengan sendirinya.
Tapi ada satu hal. Dimana aku merasa kehilangan setelah dia menjauh. Meninggalkan potongan potongan peristiwa lampau hari. Menjadikan aku merindu. Dan terpikirkan pertanyaan-pertanyaan. Mungkinkan aku jatuh hati padanya? Mengapa aku merasa kecanduan dengan sikapnya? Mengapa aku merasa kosong seolah ada yang hilang setelah dia menjauh? Mengapa aku merasa tak rela saat dia dengan yang lain? Dan Mengapa aku tak mau jauh darinya?
Jika memang ini cinta, aku berharap tiadalah kekal bila cintaku rapuh. Tapi kekallah apabila cintaku ini kokoh.
Dia yang sekarang aku pikirkan. Terima kasih aku berikan. Karena telah memecahkah hatiku yang bagai membeku. Meluluhkanku yang sempat menolak adanya rasa cinta. Terima kasih pula telah menganggapku ada dan menjadikanku seorang gadis yang tak takut dengan gejolak dunia.
Jika aku boleh berharap maka aku akan berharap supaya dia kembali bersikap konyol dihadapanku setiap hari. Membuatku tertawa sehingga lupa dengan kesedihanku. Tak apa dia mengejekku sepuasnya. Karena membuatku merasa bahwa aku ada dihadapannya dan menjadi bahan perhatiannya.
Aku yang sempat merasa goyah saat berada di zona yang tak kuharapkan, menjadi kutarik pemikiran kolotku itu semenjak ada dia. Dia bagai hiburanku setiap saat. Melupakan sejenak kepenatan dan rutukan rutukanku terhadap suasana yang kulalui setiap saat
Seandainya. Hanya seandainya. Bila aku benar jatuh cinta padanya? Apakah aku salah. Mengartikan kekonyolan dia menjadi sebuah yang kuanggap perhatian?
Ahhh.... aku yang selalu lemah dalam cinta. Tak bisa aku bedakan mana yang benar dan tidak.
Tapi aku yang lemah ini, bolehkan sekali lagi aku berharap. Agar dia juga merasakan hal yang sama denganku. Maka nantinya aku akan merasa bahagia. Sangat bahagia.
Aku janji setelah itu aku akan kembali pada takdirku disini. Menuntut ilmuku dengan serius. Begitu pula aku akan mencintainya dengan serius.
Love you, thanks for make me regarded. And thanks for your mockery.
For you who always jocking me everyday.

Satu lagi, aku sadar ada yang lain yang lebih pasti dihatimu. Dan mungkin aku seseorang yang datang setelahnya. Hal itu kudengar dari mulut kawanku yang sempat bertanya pada sahabatmu. Perihal benar atau tidaknya, semua ditanganmu. Aku tak meminta kamu memilih diantara keduanya aku dan dia. Atau bahkan aku tidak sama sekali memintamu untuk memilihku. Lagi, semua ditanganmu. Kamu yang punya hati. Kamu yang punya perasaan, yang bisa merasakan kenyamanan. Pilihlah siapa yang paling kau anggap bisa membuatmu nyaman.
Read More
    email this       edit